Sejak pertemuan itu, aku seakan bermetamofosis. Dari ulat bulu menjijikan, menjelma kupu-kupu indah menawan (ups, aku kan belum layak menjadi kupu-kupu indah menawan, aku kan hanya berusaha untuk menjadi itu).
Saat itu seolah hati merana tak berjiwa.
Seperti hampa tak berdaya.
Namun rasa ini memaksa ku untuk ada.
Humm.. Perasaan apa ya? Kerinduan? Kekaguman? Keharuan?
Atau... Cinta?
Ya.. Spertinya cinta yang sesungguhnya kurasa.
Hati ku yang tak mampu untuk berbicara, begitupun mulut ini, tak sanggup untuk mengutarakannya.
Keinginan untuk dicintainya telah terpendam jauh di pelosok kalbu.
Cinta yang tulus keluar dari jiwa dan nurani.
Cinta yang tulus sampai aku tak pernah kehilangan kenangan tentang dirinya.
Cinta yang murni hingga waktu tak pernah mampu mengubahnya.
ooo...jadi puisi ini yang pernah kamu tweet judulnya :D....
BalasHapusade kan bisa bikin banyak puisi, minta yang banyak gih, Fa, terus posting di blog :D
jadi saksi perjalanan kalian nantinya *giggles*
hihihi..
BalasHapusbetul.. betul.. betul..